Jumat, 05 Juni 2026

Bersaing dalam bisnis


 






Bisnis (business) tidak terlepas dari aktivitas produksi, pembelian, 

penjualan, maupun pertukaran barang dan jasa yang melibatkan orang atau 

perusahaan. Aktivitas bisnis pada umumnya mempunyai tujuan menghasilkan 

laba, serta mengumpulkan cukup dana bagi kegiatan bisnis itu sendiri. Bisnis 

tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung dengan strategi bersaing yang 

tepat. 

Keunggulan bersaing penting untuk diketahui dalam penyusunan 

perencanaan bisnis karena tidak lepas dari prinsip-prinsip ekonomi, yaitu 

bagaimana operasional perusahaan dapat berjalan lancar dengan meminimalkan 

seluruh biaya yang ditimbulkan dan memaksimalkan Keuntungan.

 Banyak 

strategi bersaing yang dapat digunakan untuk mendapatkan keunggulan bersaing 

diantaranya; strategi bersaing Michael Porter, Mintzberg, dan juga strategi 

bersaing yang diajarkan oleh Rasulullah saw. 

Strategi bersaing Michael Porter yaitu cost leadership, diferensiasi, dan 

fokus. Cost leadership yaitu perusahaan yang unggul dalam produksi berbiaya 

rendah mampu menggunakan keunggulan biayanya untuk menawarkan harga 

yang lebih rendah atau untuk menikmati margin yang lebih tinggi.


 Diferensiasi 

yaitu perusahaan mampu menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada 

konsumennya misalnya, persepsi terhadap keunggulan kinerja produk, inovasi 

produk, pelayanan yang lebih baik dan lain sebagainya.

3

 Fokus yaitu strategi yang 

digunakan perusahaan yang bersedia melayani wilayah-wilayah goegrafis yang 

terisolasi.

4

 

Mintzberg mengemukakan dua strategi yaitu; strategi bersaing diferensiasi 

dan strategi tidak terdiferensiasi. Ada enam strategi bersaing yang dapat 

mendukung keunggulan kompetitif diferensiasi yaitu; (harga, citra pasar, desain 

produk, kualitas produk, pendukung produk). Strategi tidak diferensiasi yaitu 

dimana perusahaan tidak mempuyai dasar untuk diferensiasi atau strategi yang 

digunakan hanya meniru strategi perusahaan lain.

5

 

Strategi bersaing dalam Islam, Rasulullah saw. memberikan contoh 

bagaimana bersaing dengan baik. Ketika berdagang, Rasul tidak pernah 

melakukan usaha untuk menghancurkan pesaing dagangnya. Itu bukan berarti 

Rasulullah berdagang seadanya tanpa memperhatikan daya saingnya. Yang beliau 

lakukan yaitu  dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan 

menyebut spesifikasi barang yang dijual dengan jujur termasuk jika ada cacat 

pada barang tersebut.

6

 

 

B. PEMBAHASAN 

1. Pengertian Strategi 

Pada awalnya konsep strategi (strategy) didefinisikan sebagai cara untuk 

mencapai tujan (ways to achieve ends). Porter berpendapat bahwa tujuan utama 

pembuatan strategi oleh perusahaan yaitu  agar perusahaan mampu menghadapi 

perubahan lingkungan dalam jangka panjang.

7

 

Strategi yaitu  cara terbaik untuk mencapai suatu sasaran atau untuk 

melaksanakan suatu pekerjaan. Selain itu strategi berarti penentuan tujuan dan 

sasaran jangka panjang organisasi atau perusahaan. Pada saat perusahaan ingin 

memenangkan persaingan pada suatu industri satu hal yang harus diputuskan yaitu 

strategi yang harus diberlakukan. Kaberhasilan suatu strategi tidak lepas dari 

sumber daya dan kecakapan pendayagunaannya.

Melihat strategi hanya sebagai salah satu bagian dari rencana (plan), 

akhirnya Mintzberg memperluas konsep strategi dan mendifinisikan strategi 

dengan memperhatikan berbagai konsep strategi. Mintzberg menamakannya “5 

p’s of strategy”, yaitu; 

1. Strategy as a plan 

Strategi sebagai sebuah “plan” seperti rumusan strategi yang disampaikan 

oleh Gluek, dimana strategi merupakan suatu rencana yang terpadu, 

komprehensif, dan terintegrasi yang dirancang untuk memastikan bahwa 

tujuan-tujuan pokok perusahaan dapat dicapai. 

2. Strategy as a ploy 

Dalam hal ini strategi merupakan suatu manuver yang spesifik untuk 

memberi isyarat mengancam kepada pesaing perusahaan karena 

perusahaan memiliki kekuatan ekonomi yang lebih baik dari pada pesaing. 

3. Strategy as a pattern 

Strategi sebagai sebuah pola atau serangkaian tindakan yang dilakukan 

oleh manajemen dalam mengejar sebuah tujuan. 

4. Strategy as a position 

Dalam hal ini strategi ini digunakan untuk memposisikan organisasi 

perusahaan di dalam lingkungan perusahaan.  

5. Strategy as a perspective 

Dalam hal ini strategi merupakan perspektif dari para strategist (pembuat 

keputusan strategis). Strategi merupakan pemikiran yang hidup di dalam 

benak para pembuat keputusan strategis dan seperti halnya ideologi atau 

budaya di dalam organisasi.

9

 

 

 

2. Strategi Bersaing 

Menurut Porter ada dua alasan mendasar dalam menentukan strategi 

bersaing perusahaan. Pertama, yaitu  daya tarik industri yang ditunjukan oleh 

profitabilitas industri dalam jangka panjang. Kedua, analisis terhadap berbagai 

faktor yang akan menentukan posisi persaingan perusahaan di dalam industri. 


 

Porter menyebutkan adanya lima kekuatan persaingan yang akan 

berpengaruh terhadap profitabilitas suatu industri, yaitu: potential entrants, 

suppliers, industry competitors, substitutes, buyers. 

1. Pesaing potensial (potential entrants), yaitu  perusahaan yang saat ini 

tidak bersaing dalam satu industri tetapi memiliki kemampuan sumber 

daya untuk memasuki suatu industri apabila perusahaan tersebut 

berkehendak. 

2. Pemasok (supplier), merupakan organisasi yang menyediakan input bagi 

perusahaan seperti bahan baku, jasa, dan tenaga kerja. Pemasok yang 

memiliki posisi tawar yang kuat akan berusaha untuk memaksimalkan laba 

bagi dirinya sendiri dan mengakibatkan peningkatan biaya kepada industri 

yang bergantung pada pasokan input dari pemasok tersebut. 

3. Persaingan antarperusahaan dalam satu industri (Industry competitors), 

menunjukkan perjuangan perusahaan dalam satu industri untuk 

memperebutkan pangsa pasar (maket share) maupun pangsa pelanggan 

(customer share) melalui: penetapan harga produk, pengeluaran iklan dan 

promosi, penggunaan tenaga penjualan, penerapan penjualan langsung, 

maupun dukungan layanan purnajual. 

4. Ancaman dari produk substitusi (substitute products), persaingan terhadap 

produk tidak hanya berasal dari perusahaan yang memproduksi produk 

yang sama, melainkan juga berasal dari perusahaan yang memproduksi 

produk yang memiliki kesamaan fungsi dengan produk yang dihasilkan 

perusahaan. 

5. Daya tawar pembeli (buyer), pembeli memiliki posisi penting terhadap 

kelangsungan hidup perusahaan karena pendapatan penjualan (sales 

revenue) yang diperoleh perusahaan berasal dari penjualan produk 

perusahaan kepada pembeli. Posisi daya tawar pembeli terhadap 

perusahaan yang menjual barang dan jasa ditentukan oleh dua hal utama 

yaitu bargaining leverage (pengaruh tawar-menawar) dan price sensitivity 

(sensitivitas harga).

 

Porter’s Competitive Strategies, inilah yang lazim dianut para manajer 

dalam menentukan strategi bersaing. Strategi bersaing ala Porter ini 

dikembangkan atas dua pertanyaan mendasar, yaitu; 

1. Apakah kita akan bersaing dengan basis biaya rendah, atau kita mencoba 

membuat diferensiasi pada produk/layanan? Pada yang kedua ini, 

diferensiasinya tidak dengan dasar biaya, tapi dengan hal seperti mutu atau 

layanan. 

2. Apakah kita akan bersaing secara langsung (head to head) dengan pesaing 

utama atas pangsa pasar yang paling diminati dari pasar, atau kita fokus 

pada ceruk pasar (niche market) yang relatif kurang diminati tapi 

merupakan segmen pasar yang menguntungkan?

11

 

Tiga strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk memperoleh 

keunggulan bersaing yaitu: 

1. Cost Leadership 

Cost leadership, Sebuah perusahaan yang unggul dalam produksi 

berbiaya rendah mampu menggunakan keunggulan biayanya untuk 

menawarkan harga yang lebih rendah atau untuk menikmati margin yang 

lebih tinggi. Dengan hal tersebut, perusahaan dapat secara efektif 

mempertahankan diri dalam perang harga, menyerang pesaing dengan 

harga rendah untuk merebut pangsa pasar.

12

 

Perusahaan akan memperoleh manfaat yang sangat besar dengan 

adanya keunggulan biaya. Pertama, perusahaan dapat menentukan harga 

jual yang rendah tetapi masih memperoleh margin yang memadai 

dibanding pesaing yang menetapkan haraga sama tetapi memiliki biaya 

yang lebih tinggi. Kedua, biaya yang rendah dapat menjadi hambatan bagi 

pesaing potensial yang ingin memasuki industri yang sama.

13

 

Dalam pelaksanaannya strategi keunggulan harga/biaya 

mempunyai risiko, yang menyebabkan strategi tidak berhasil dan tidak 

dapat digunakan secara terus menerus yaitu; 

a. Adanya perubahan teknologi, yang menyebabkan investasi atau 

pengalaman masa lalu menjadi tidak bermanfaat atau hilang. 


 

b. Pendatang baru atau pesaing meniru/menjiplak pengalaman biaya 

rendah. 

c. Produk tidak terlalu berkembang, karena perhatian terlalu tertuju 

kepada biaya, sehingga (cenderung) kurang mampu/menyadari 

perlunya perubahan produk. 

d. Inflasi, sehingga kurang bersaing dengan perusahaan lain yang 

menerapkan strategi diferensiasi. 

e. Minat pembeli berubah ke hal-hal pembeda (diferensiasi).

14

 

2. Diferensiasi 

Strategi diferensiasi dirancang untuk menarik pelanggan yang 

memiliki sensitifitas khusus untuk satu atribut produk. Atribut produk juga 

dapat menjadi saluran pemasaran dimana perusahaan menyampaikan 

citranya akan keunggulan, fitur yang dimiliki serta jaringan yang 

mendukungnya. Oleh karena itu, iklan memainkan peran penting dalam 

pembangunaan dan penentuan elemen yang berbeda dari merek suatu 

perusahaan.

15

 

Diferensiasi juga ditujukan untuk pasar yang luas dan melibatkan 

penciptaan produk atau jasa yang dianggap memiliki keunikan disuatu 

industri. Perusahaan dapat membebankan harga ekstra (premium) bagi 

produknya dari keunikan tersebut. Tetapi di sisi lain, loyalitas merek bagi 

sekelompok konsumen akan membuat konsumen tidak mau beralih ke 

produk atau perusahaan lain.

16

 Perusahaan juga dapat melakukan strategi 

diferensiasi dengan menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada 

konsumennya misalnya; persepsi terhadap keunggulan kinerja produk, 

inovasi produk, dan pelayanan yang lebih baik.

17

 

Diferensiasi yang dilakukan oleh perusahaan dapat berasal dari 

produk itu sendiri, sistem pengantaran pesanan, pendekatan pemasaran 

yang dilakukan oleh perusahaan, dan lain-lain. Dari manapun sumber 

diferensiasi yang dilakukan perusahaan, apabila pelanggan menganggap 

diferensiasi yang dilakukan perusahaan merupakan sesuatu yang berharga 

maka pelanggan akan bersedia membayar produk perusahaan dengan 

harga yang lebih tinggi dibanding produk pesaing.

Saat mengembangkan posisi “positioning” dan pembedaan 

“differentiation” untuk mendukungnya, perusahaan harus waspada satu 

hal, yaitu “janganlah ingin berbeda, hanya karena perbedaan itu sendiri”. 

Perusahaan berbeda, karena itu memenag bermanfaat untuk konsumen dan 

menguntungkan perusahaan. Untuk itu, perbedaan yang kita harapkan bisa 

dirasakan konsumen tetap harus: 

a. Menguntungkan Perusahaan 

Posisi “Positioning” yang perusahaan jalankan, haruslah pada akhirnya 

menguntungkan perusahaan itu sendiri. Ia mampu membedakan 

perusahaan dengan pesaing. 

b. Penting bagi konsumen 

Ketika perbedaan yang perusahaan tonjolkan dianggap penting oleh 

konsumen, dengan sendirinya ia akan membeli produk perusahaan 

(karena seharusnya menguntungkan) 

c. Dapat dikomunikasikan  

Kekhasan yang istimewa, tidak ada atrinya ketika ia sulit untuk 

dikomunikasikan. Untuk menyampaikan perbedaan pada konsumen 

dapat melalui; iklan, promosi penjualan, sampai dengan desain, 

kemasan produk, logo, karakter huruf, serta jinggel iklan. 

d. Tidak mudah untuk ditiru 

Sedapat mungkin, buatlah perbedaan yang memang sulit ditiru 

pesaing. Biasanya sebuah konsep yang berhasil termasuk positioning 

akan ditiru oleh pesaing. Meskipun ini cukup sulit, tapi paling tidak 

kita telah mengarah kesana.

19

 

3. Fokus 

Strategi yang fokus, baik yang didasarkan pada biaya rendah 

maupun diferensiasi berupaya untuk memenuhi kebutuhan dari segmen 

pasar tertentu. Perusahaan yang menerapkan strategi fokus akan bersedia 

melayani wilayah-wilayah goegrafis yang terisolasi. Perusahaan yang 

menggunakan strategi fokus memperoleh laba dari ketersediaannya untuk 

melayani segmen pelanggan yang biasanya diabaikan atau dipandang 

sebelah mata.

 

 

Startegi fokus disini ada dua macam yaitu; fokus pada biaya dan 

fokus pada diferensiasi. Fokus pada biaya ini yaitu  strategi dimana 

perusahaan membuat efisien biayanya, tapi sekaligus juga mencari ceruk 

pasar tertentu yang tidak menunggu pemimpin pasar (market leader). 

Fokus pada diferensiasi, strategi ini menyoroti sekelompok pasar tertentu, 

segmen lini produk tertentu, atau geografis tertentu.

21

 

Bila perusahaan memilih strategi ini, maka perusahaan akan 

memilih satu atau beberapa kelompok segmen dalam suatu industri 

kemudian mereka akan mengembangkan strategi yang sesuai untuk 

segmen tersebut yang tidak bisa dilayani dengan baik oleh pesaing lain 

yang memiliki cakupan pasar lebih luas. Melalui optimalisasi strategi ini, 

perusahaan yang memilih cakupan strategi fokus akan memperoleh 

keunggulan kompetitif pada segmen pasar tertentu meskipun mereka tidak 

memiliki keunggulan kompetitif dalam industri secara keseluruhan.

22

 

Keunggulan bersaing sebuah perusahaan salah satunya dengan perbedaan 

(differentition) tawaran perusahaan yang memberikan nilai lebih kepada 

konsumen dibandingkan dengan pesaing. Penawaran perusahaan kepada pasar 

dapat didiferensiasikan, diantaranya: diferensiasi produk, diferensiasi kualitas 

pelayanan, diferensiasia personalia, diferensiasi Citra dan diferensiasi saluran 

distribusi.

23

 

Henry Mintzberg telah mengembangkan alternatif tipe strategi persaingan 

yang dirasakan lebih bagus dalam menggambarkan naiknya kompleksitas 

lingkungan persaingan. Perspektif baru dalam strategi bersaing, Mintzberg 

mengemukakan dua strategi yaitu; strategi bersaing diferensiasi dan strategi tidak 

terdiferensiasi. Ada enam strategi bersaing yang dapat mendukung keunggulan 

kompetitif diferensiasi yaitu; (harga, citra pasar, desain produk, kualitas produk, 

pendukung produk). 

Diferensiasi melalui citra (image) pasar yaitu  organisasi untuk 

menciptakan citra tertentu pada benak konsumen. Diferensiasi melalui desain 

produk bisa diartikan sebagai usaha organisasi untuk berkompetisi dengan 

menciptakan fitur produk dan desain yang diinginkan pasar. Diferensiasi melalui 

kualitas merupakan strategi di mana organisasi berkompetisi dengan memberikan 

kualitas dan kinerja produk yang lebih pada harga yang bersaing. Diferensiasi 

pendukung produk menekankan pada jasa pelayanan pelanggan yang disesuaikan 

oleh organisasi. Sedangkan strategi tidak terdeferensiasi menjelaskan situasi di 

mana organisasi tidak mempunyai dasar untuk diferensiasi atau ketika organisasi 

dengan sengaja menerapkan strategi yang ditirunya dari strategi organisasi lain.

24

 

Risiko dalam menjalankan strategi generik yaitu  apakah perusahaan 

punya jaminan sukses bila menjalankan salah satu strategi generik dari Porter ini. 

Jawabanya tentu saja tidak. Pertama, belum tentu strategi yang dipilih tepat. 

Kedua, masing-masing strategi memang memiliki kelemahan tersendiri. Di 

samping itu, yang jelas pesaing akan mencoba menirunya bila strategi tertentu 

berhasil bahkan bila itu sebuah upaya pembedaan. Keberhasilan sebuah strategi 

bersaing akan menjadi daya tarik bagi pelaku bisnis lainnya, terutama bila 

kebehasilannya menyolok.

25

 

 

3. Strategi Bersaing Dalam Islam 

Islam sebagai sebuah aturan hidup yang khas, telah memberikan aturan-

aturannya yang rinci untuk menghindarkan munculnya permasalahan akibat 

praktik persaingan yang tidak sehat. Minimal ada tiga unsur yang perlu dicermati 

dalam membahas persaingan bisnis menurut Islam yaitu: pihak-pihak yang 

bersaing, cara persaingan, dan produk yang dipersaingkan.

26

 

1. Pihak-pihak yang bersaing 

Manusia merupakan pusat pengendali persaingan bisnis. Ia akan 

menjalankan bisnisnya terkait dengan pandangannya tentang bisnis yang 

digelutinya termasuk persaingan yang terjadi di dalamnya. Bagi seorang 

muslim, bisnis yang dilakukan yaitu  dalam rangka memperoleh dan 

mengembangkan kepemilikan harta. Harta yang diperoleh yaitu  rezeki 

yang merupakan karunia yang telah ditetapkan Allah. 

Tugas manusia yaitu  melakukan usaha untuk mendapatkan rezeki 

dengan cara yang sebaik-baiknya. Salah satunya dengan jalan berbisnis, ia 

tidak akan takut akan kekurangan rezeki atau kehilangan rezeki hanya 

karena anggapan rezeki itu di ambil pesaing. Hal ini dijelaskan dalam ayat 

Al-quran Al-Mulk ayat 15. 

Strategi Bersaing… Utari Evy   65 

 

 

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah 

di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki- Nya. dan 

hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

27

 

 

Keyakinan bahwa rezeki semata-mata datang dari Allah SWT akan 

menjadi kekuatan ruhiyah bagi seorang pembisnis muslim. Keyakinan ini 

menjadi landasan sikap tawakal yang kokoh dalam berbisnis. Selama 

berbisnis, ia senantiasa sandarkan segala sesuatunya kepada Allah. 

Manakala bisnisnya memenangkan persaingan, ia bersyukur. Sebaliknya, 

ketika terpuruk dalam bersaing, ia bersabar. Intinya, segala keadaan ia 

hadapi dengan sikap positif tanpa meninggalkan hal-hal prinsip yang telah 

Allah perintahkan kepadanya. 

Seorang muslim akan memandang bahwa bisnis hanyalah sebagai 

pelaksanaan perintah Allah untuk mencari karunianya yang tersebar di 

seluruh penjuru bumi. Karena itu, tidak terpikir olehnya untuk 

menghalalkan segala cara untuk sekedar memenangkan “persaingan”. Bagi 

seorang muslim persaingan yaitu  berebut menjadi yang terbaik, terbaik 

dalam produk yang bermutu, harga bersaing “tidak membanting harga, 

maupun merugikan komsumen”, dan dengan pelayanan total. 

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan 

siang untuk mencari penghidupan.”

28

 

Dalam Qur‟an Surat an-Naba‟ 10-11 dijelaskan bahwa dalam hal 

kerja, Islam memerintahkan setiap muslim untuk memiliki etos kerja yang 

tinggi, sebagaimana Allah telah memerintahkan umatnya untuk berlomba-

lomba dalam kebaikan. Dengan landasan ini, persaingan tidak lagi 

diartikan sebagai usaha mematikan pesaing lainnya, tetapi dilakukan untuk 

memberikan sesuatu yang terbaik dari usaha bisnisnya. 

2. Cara bersaing 

Berbisnis yaitu  bagian dari muamalah. Karenanya, bisnis juga 

tidak terlepas dari hukum-hukum yang mengatur masalah muamalah. 

Karenanya persaingan bebas yang menghalalkan segala cara merupakan 

66   At-Tijaroh                                                 Volume 2, No. 1, Januari-Juni 2016 

praktik yang harus dihilangkan karena bertentangan dengan prinsipprinsip 

muamalah Islam.  

Dalam berbisnis, setiap orang akan berhubungan dengan pihakpihak lain 

seperti rekan bisnis dan pesaing bisnis. Sebagai hubungan interpersonal, 

seorang pembisnis muslim tetap harus berupaya memberikan pelayanan 

terbaik kepada mitra bisnisnya. Hanya saja, tidak mungkin bagi pebisnis 

muslim bahwa pelayanan terbaik itu diartikan juga memberikan “servis” 

dengan hal yang dilarang syariah. 

Pemberian suap untuk memuluskan negosiasi, misalnya, jelas 

dilarang syariat. Atau dengan cara memberikan umpan perempuan, 

sebagaimana telah menjadi hal lumrah dalam praktik bisnis sekarang. 

Dalam berhubungan dengan rekan bisnis, setiap pebisnis muslim harus 

memperhatikan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan akad-akad 

bisnis. Dalam berakad, haruslah sesuai dengan kenyataan tanpa 

manipulasi. Misalnya, memberikan sampel produk dengan kualitas yang 

sangat baik, padahal yang dikirimkan itu memiliki kualitas jelek. 

Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana bersaing dengan 

baik. Ketika berdagang, Rasul tidak pernah melakukan usaha untuk 

menghancurkan pesaing dagangnya. Itu bukan berarti Rasulullah 

berdagang seadanya tanpa memperhatikan daya saingnya. Yang beliau 

lakukan yaitu  dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan 

menyebut spesifikasi barang yang dijual dengan jujur termasuk jika ada 

cacat pada barang tersebut. Secara alami, hal seperti itu ternyata justru 

mampu meningkatkan kualitas penjualan dan menarik para pembeli tanpa 

menghancurkan pedagang lainnya. 

Sementara itu, Negara harus mampu menjamin terciptanya sistem 

yang kondusif dalam persaingan. Pemerintah tidak diperkenankan fasilitas 

khusus pada seorang atau sekelompok pebisnis tentang teknologi, 

informasi pasar, pasokan bahan baku, hak monopoli, atau penghapusan 

pajak. 

3. Produk (barang dan jasa) yang dipersaingkan 

Strategi Bersaing… Utari Evy   67 

 

Beberapa keunggulan produk yang dapat digunakan untuk 

meningkatkan daya saing yaitu  sebagai berikut: 

a. Produk 

Produk usaha bisnis yang dipersaingkan baik barang maupun jasa 

harus halal. Spesifikasinya harus sesuai dengan apa yang diharapkan 

konsumen untuk menghindari penipuan, kualitas terjamin dan berdaya 

saing. 

b. Harga 

Bila ingin memenangkan persaingan, maka harga harus kompetitif. 

Dalam hal ini tidak diperkenankan membanting harga dengan tujuan 

menjatuhkan pesaing. 

c. Tempat 

Tempat harus baik, bersih, sehat dan nyaman agar dapat menarik 

pelanggan. 

d. Pelayanan 

Pelayanan harus diberikan dengan ramah, tapi tidak boleh dengan 

mendekati maksiat. 

e. Layanan purna jual 

Layanan purna jual ini merupakan servis yang diberikan kepada 

konsumen untuk sesuai akad yang telah disepakati.

29

 

Banyak faktor yang dapat memengaruhi apakah suatu perusahaan menjadi 

pesaing kita atau tidak. Pesaing dapat dilihat dari sisi industri, harga, bahkan 

segmen pasar. Penentuan pesaing sangatlah penting karena hal tersebut sangat 

berpengaruh terhadap keberhasilan perusahaan. Penelitian menunjukkan bahwa 

“hanya 20%, pemasar yang dapat mengidentifikasi pesaingnya dengan tepat, 

sementara 80% lebihnya salah sasaran”.

30

 

“Jangan membunuh pesaingmu, agar kamu tidak kehilangan rasa 

bersaing”, hal ini perlu diperhatikan. Persaingan itu jangan kita lihat sebagai 

ancaman, dimana kita harus memenangkan bahkan mematikan pesaing, justru 

sebaliknya dengan adanya persaingan, maka perusahaan kita selalu mempunyai 

„rasa bersaing‟ yang membawa kita pada perbaikan perusahaan, baik proses di 

dalam, manajemen, kualitas produk yang bisa memberikan nilai tambah serta 

68   At-Tijaroh                                                 Volume 2, No. 1, Januari-Juni 2016 

kepuasan kepada seluruh pihak yang berkepentingan, terutama pihak pelanggan, 

pemilik dan karyawan.

31

 

 

C. Penutup 

 Strategi yaitu  cara untuk mencapai suatu tujuan dalam melaksanakan 

suatu pekerjaan. Tujuan bisnis pada umumnya yaitu  menghasilkan laba, serta 

mengumpulkan cukup dana bagi kegiatan bisnis itu sendiri. Karena itu diperlukan 

strategi bersaing agar bisnis yang dijalani memiliki keunggulan bersaing 

dibandingkan dengan pesaing lainnya. 

 Menurut Porter terdapat tiga strategi bersaing yaitu cost leadership, 

diferensiasi, dan fokus. Sedangkan Mintzberg mengemukakan dua strategi 

bersaing yaitu diferensiasi dan strategi tidak terdiferensiasi. Selain strategi 

bersaing yang diungkapkan oleh kedua pakar tersebut, Islam juga mengajarkan 

strategi bersaing dalam bisnis. Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan ketika 

membahas persaingan bisnis secara Islami yaitu pihak-pihak yang bersaing, cara 

persaingan, dan produk yang dipersaingkan. 

 

 

Endnotes: 

                                                          

1

 M. Fuad dan Christine H., Pengantar Bisnis (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 

2003), hlm. 4. 

2

 Pearce II, John A, Richard B. Robinson Jr, Manajemen Strategik: Formulasi, 

Implementasi, dan Pengendalian, buku 1 (Jakarta: Salemba Empat, 2014), hlm. 

205. 

3

 Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis Reorientasi 

Konsep perencanaan strategic untuk menghadapi abad 21 (Jakarta: Gramedia 

Pustaka Utama, 2006), hlm. 6. 

4

 Pearce II, Op. Cit., hlm. 206. 

5

 Mudrajad Kuncoro, Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Bersaing (Jakarta: 

PT. Gelora Aksara, 2005), hlm. 102. 

6

 Muhammad Ismail Yusanto, Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas 

Bisnis Islami (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), hlm. 93. 

7

 Ismail Solihin, Manajemen Strategik (Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 

2012), hlm. 24-25. 

8

 Pontas M. Pardede, Manajemen Strategik Dan Kebijakan Perusahaan (Jakarta: 

Mitra Wacana Media, 2011), hlm. 28. 

Strategi Bersaing… Utari Evy   69 

 

                                                                                                                                                               

9

 Ismail Solihin, Op. Cit., hlm. 25-28. 

10

 Ibid. hlm. 41-43. 

11

 Taufiq Amir, Manajemen Strategik konsep dan Aplikasi (Jakarta: Raja Wali 

Pers, 2011), hlm. 155. 

12

 Ibid., hlm. 157. 

13

 Ismail Sholihin, Op. Cit., hlm. 197. 

14

 Jemsly Hutabarat, Matini Huseini, Proses, Formasi & Implementasi 

Manajemen Strategik Kontemporer Operasionalisasi Strategi (Jakarta: PT. 

Elex Media Komputindo, 2006), hlm. 215. 

15

 Pearce II, Op. Cit., hlm. 206. 

16

 Taufiq Amir, Op. Cit., hlm. 157-158. 

17

 Rangkuti, Freddy, Op. Cit., hlm. 6. 

18

 Ismail Sholihin, Op. Cit., hlm. 198. 

19

 Taufiq Amir, Op. Cit., hlm. 160. 

20

 Pearce II, Op. Cit., hlm. 206. 

21

 Taufiq Amir, Op. Cit., hlm. 158-159. 

22

 Ismail Sholihin, Op. Cit., hlm. 198. 

23

 Kasmiruddin, Analisis Strategi Bersaing Bisnis Eceran Besar/Modern (Kasus 

Persaingan Bisnis Ritel Di Pekanbaru), Jurnal Aplikasi Bisnis, Vol. 3 No. 1, 

Oktober 2012 hlm. 10. 

24

 Mudrajad Kuncoro, Op. Cit., hlm. 101. 

25

 Taufiq Amir, Op. Cit., hlm. 159. 

26

 Muhammad Ismail Yusanto, Op. Cit.  hlm. 92-93. 

27

 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, Bandung: Diponegoro, 

2008, Surat Al-Mulk ayat 15. 

28

 Ibid., Surat an-Naba‟ 10-11. 

29

 Muhammad Ismail Yusanto, Op. Cit., hlm. 96. 

30

 Jemsly Hutabarat, Op. Cit., hlm. 71 

31

 Ibid, hlm.73. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

70   At-Tijaroh                                                 Volume 2, No. 1, Januari-Juni 2016 

                                                                                                                                                               

Daftar Pustaka 

 

Amir, Taufiq, Manajemen Strategik konsep dan Aplikasi, Jakarta: Raja Wakli 

Pers, 2011.  

 

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, Bandung: Diponegoro, 

2008. 

 

Fuad, M, Christine H.. (et. al), Pengantar Bisnis, Jakarta: Gramedia Pustaka 

Utama, 2003, Cet ketiga. 

 

Freddy, Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis Reorientasi 

Konsep perencanaan strategic untuk menghadapi abad 21, Jakarta: 

Gramedia Pustaka Utama, 2006. Cetakan kedua belas. 

 

Hutabarat, Jemsly, Matini Huseini, Peoses, Formasi & Implementasi Manajemen 

Strategik Kontenporer Operasionalisasi Strategi, Jakarta: PT. Elex Media 

Komputindo, 2006. 

 

Ismail, Muhammad Yusanto, Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas 

Bisnis Islami, Jakarta: Gema Insani Press, 2002. Cet 1. 

 

Kasmiruddin, “Analisis Strategi Bersaing Bisnis Eceran Besar/ Modern (Kasus 

Persaingan Bisnis Ritel Di Pekanbaru)”, Jurnal Aplikasi Bisnis, (Vol. 3 

No. 1, Oktober 2012). 

 

Kuncoro, Mudrajad, Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Bersaing, Jakarta: 

PT. Gelora Aksara, 2005. 

 

Pardede, Pontas M., Manajemen Strategik Dan Kebijakan Perusahaan, Jakarta: 

Mitra Wacana Media, 2011. 

 

Pearce II, John A, Richard B. Robinson Jr, Manajemen Strategik: Formulasi, 

Implementasi, dan Pengendalian, buku 1, Jakarta: Salemba Empat, edisi 

12, 2014. 

 

Solihin, Ismail, Manajemen Strategik, Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2012.